Selasa, 21 Desember 2010

STATUS AGAMA ORANG TUA NABI APA.??

Didalam sebuah hadits
yang diriwayatkan dari
Anas bahwa seseorang
telah bertanya kepada
Rasulullah saw, ”Wahai
Rasulullah dimanakah
ayahku? Beliau saw
menjawab, ’di neraka.’
Ketika orang itu berlalu
maka (Rasul)
memanggilnya dan
mengatakan, ’Sesungguhnya
ayahku dan ayahmu di
neraka. ” (HR. Muslim)
Didalam hadits lain yang
juga diriwayatkan oleh
Muslim dari Abu Hurairoh
bahwasanya Rasulullah
saw bersabda, ”Aku
meminta izin kepada
Tuhanku untuk memohon
ampun buat ibuku maka
Dia tidak mengizinkanku
dan aku meminta izin
untuk menziarahi
kuburnya maka dia
mengizinkanku. ”
Syeikh Athiyah Saqar
mengatakan bahwa para
ulama telah
membicarakan tentang
kedua orang tua Nabi
saw dan mereka berdua
telah meninggal sebelum
diutusnya Nabi saw
menjadi seorang Rasul
saw. Sekelompok ulama
mengatakan bahwa
mereka berdua selamat
(dari neraka) seperti
halnya orang-orang ahli
fatroh--orang-orang yang
hidup setelah masa nabi
Isa as hingga diutusnya
Nabi Muhammad saw,
pen—sebagaimana
firman-Nya :
اَمَو اَّنُك يِبِّذَعُمَن
ىَّتَح َثَعْبَن ًالوُسَر
Artinya : “Dan Kami tidak
akan meng'azab sebelum
Kami mengutus seorang
rasul. ” (QS. Al Isra : 15)
Sementara para ulama
yang lain mengatakan
bahwa mereka berdua
bukanlah orang-orang
yang beriman. Mereka
berdalil dengan hadits
Abu Hurairoh diatas yang
dikuatkan oleh firman
Allah swt ;
Artinya : “Tiadalah
sepatutnya bagi nabi dan
orang-orang yang
beriman memintakan
ampun (kepada Allah)
bagi orang-orang
musyrik, walaupun orang-
orang musyrik itu adalah
kaum kerabat (nya),
sesudah jelas bagi
mereka, bahwasanya
orang-orang musyrik itu
adalah penghuni neraka
jahanam.” (QS. Al Isra :
113)
Kelompok pertama
memberikan jawaban
kepada mereka dengan
mengatakan bahwa tidak
adanya izin dari Allah
untuk memohon ampunan
bukanlah dalil terhadap
kekufuran sebagaimana
Nabi saw tidak
menshalatkan seorang
meninggal yang memiliki
utang padahal ia
bukanlah orang kafir dan
tidak dibolehkannya
memohon ampunan bagi
orang-orang musyrikin
setelah jelas bahwa
mereka adalah para
penghuni neraka jahanam
dan hal itu setelah
datang kepada mereka
da ’wah islam. Adapun
kedua orang tua
Rasulullah saw tidaklah
sampai kepada mereka
berdua da ’wah islam
dikarenakan mereka
meninggal sebelum
diutusnya Nabi saw
sebagai Rasul. (Fatawa al
Azhar juz VIII hal 237)
Terhadap hadits Abu
Hurairoh diatas, Imam
Nawawi mengatakan
bahwa hadits itu
menjelaskan tentang
larangan memohon
ampunan buat orang-
orang kafir. (Shahih
Muslim bi Syarhin
Nawawi juz V hal 64)
Al ‘Alamah Abu Thoyib al
Abadi mengatakan bahwa
makna “maka Dia tidak
mengizinkanku”
dikarenakan dia (ibunya
saw) masih kafir dan
memohon ampunan buat
orang-orang kafir
tidaklah diperbolehkan.
(Aunul Ma ’bud juz IX hal
39 – 40)
Adapun pendapat orang-
orang yang mengatakan
telah disebutkan didalam
sebuah hadits bahwa
Allah swt telah
menghidupkan kedua
orang tua Rasulullah
sehingga mereka berdua
masuk islam melalui
tangannya kemudian
keduanya meninggal
setelah itu ?
Maka Syeikhul Islam Ibnu
Taimiyah mengatakan
bahwa hal itu tidak
pernah diriwayatkan oleh
seorang ahli hadits pun
bahkan para ahli ma ’rifah
telah bersepakat bahwa
itu adalah dusta dan
bualan belaka. Walaupun
Abu Bakar al Khatib telah
meriwayatkan hal itu
didalam kitabnya “as
Sabiq wal Lahi” dan
disebutkan oleh Abul
Qasim as Suhailiy didalam
“ Syarhu as Siroh” dengan
sanad yang didalamnya
banyak orang-orang yang
tidak dikenal dan juga
telah disebutkan oleh
Abu Abdillah al Qurthubi
didalam “at Tadzkiroh”
dan tempat-tempat
lainnya maka tidaklah
ada perselisihan antara
ahli ma ’rifah bahwa
perkataan itu adalah
hadits palsu yang paling
nyata kebohongannya
sebagaimana dinyatakan
oleh ahli ilmu bahwa
perkataan itu tidak
terdapat didalam buku-
buku yang menjadi
rujukan didalam hadits,
tidak didalam as Shahih,
as Sunan dan tidak
didalam musnad dan
lainnya dari buku-buku
hadits yang dikenal serta
tidak juga disebutkan
oleh para penulis buku
peperangan dan tafsir
walau terkadang mereka
meriwayatkan hadits-
hadits lemah bersamaan
dengan hadits-hadits
shahih. Karena
kebohongan hal itu
tidaklah tersembuyi bagi
pada ahli agama.
Seandainya yang seperti
itu terjadi … maka
sesungguhnya hal itu
adalah perkara yang luar
biasa dilihat dari dua sisi :
dari sisi menghidupkan
orang yang telah
meninggal dan dari sisi
beriman setelah
meninggal.
Kemudian Syeikhul Islam
mengatakan bahwa hal
itu bertentangan dengan
al Qur ’an, sunnah yang
shahih dan ijma. Firman
Allah swt :
اَمَّنِإ ةَبْوَّتلاُ ىَلَع
ِهّللا َنيِذَّلِل
نوُلَمْعَيَ َءَوُّسلا
ةَلاَهَجِبٍ َّمُث
َنوُبوُتَي نِم ٍبيِرَق
ِئَلْوُأَفَك ُبوُتَي
ُهّللا ْمِهْيَلَع َناَكَو
ُهّللا ًاميِلَع
ًاميِكَح ﴿١٧﴾
ِتَسْيَلَو ةَبْوَّتلا
ُ َنيِذَّلِل نوُلَمْعَي
َ َئِّيَّسلاِتا ىَّتَح
اَذِإ َرَضَح ُمُهَدَحَأ
ُتْوَمْلا َلاَق يِّنِإ
ُتْبُت َنآلا َالَو
َنيِذَّلا َنوُتوُمَي ْمُهَو
ٌراَّفُك َكِئَلْوُأ
َنْدَتْعَأا ْمُهَل اًباَذَع
اًميِلَأ ﴿١٨ ﴾
ِArtinya : “Sesungguhnya
taubat di sisi Allah
hanyalah taubat bagi
orang-orang yang
mengerjakan kejahatan
lantaran kejahilan, yang
kemudian mereka
bertaubat dengan segera,
Maka mereka itulah yang
diterima Allah taubatnya;
dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha
Bijaksana. Dan tidaklah
taubat itu diterima Allah
dari orang-orang yang
mengerjakan kejahatan
(yang) hingga apabila
datang ajal kepada
seseorang di antara
mereka, (barulah) ia
mengatakan :
"Sesungguhnya saya
bertaubat sekarang". dan
tidak (pula diterima
taubat) orang-orang yang
mati sedang mereka di
dalam kekafiran. bagi
orang-orang itu telah
kami sediakan siksa yang
pedih. ” (QS. An Nisaa : 17
– 18)
Maka Allah swt
menjelaskan bahwa tidak
ada taubat bagi orang
yang meninggal dalam
keadaan kafir.
Artinya ; “Maka tatkala
mereka melihat azab
kami, mereka berkata:
"Kami beriman hanya
kepada Allah saja, dan
kami kafir kepada
sembahan-sembahan
yang telah kami
persekutukan dengan
Allah". Maka iman
mereka tiada berguna
bagi mereka tatkala
mereka telah melihat
siksa kami. Itulah sunnah
Allah yang telah berlaku
terhadap hamba-hamba-
Nya. dan di waktu itu
binasalah orang-orang
kafir. ” (QS. Al Mukmin :
84 – 85)
Allah swt telah
memberitahu bahwa
sunnah-Nya terhadap
hamba-hamba-Nya
adalah tidak
bermanfaatnya keimanan
setelah melihat siksaan,
lantas bagaimana setelah
kematian? Dan nash-nash
lain yang sejenis.
Didalam shahih Muslim
disebutkan, ”Bahwa
seorang laki-laki
bertanya kepada Nabi
saw, ”Dimana ayahku?’
Beliau saw
bersabda, ’Sesungguhnya
ayahmu didalam neraka.’
Dan tatkala orang itu
berpaling maka Nabi saw
memanggilnya dan
bersabda, ’Sesungguhnya
ayahmu dan ayahku
berada di neraka. ”
Didalam shahih Muslim,
bahwa Nabi saw
bersabda, ”Aku meminta
izin Tuhanku untuk
menziyarahi kubur ibuku
maka Dia mengizinkanku
dan aku meminta izin
untuk memohon ampun
buatnya maka Dia tidak
mengizinkanku. Maka
berziarahlah kalian
sesungguhnya hal itu
mengingatkan (kalian)
akan akherat. ”. Didalam
Musnad dan yang lainnya
beliau saw
bersabda, ”Sesungguhnya
ibuku dan ibumu di
neraka. ’ (Majmu’ al
Fatawa juz IV hal 325 –
326)
Wallahu A’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar